Coagulant Overdosing: Mengapa Dosis Koagulan Berlebih Dapat Menurunkan Kinerja Pengolahan

ACH water treatment

Coagulant overdosing dapat menurunkan kinerja pengolahan, bukan justru meningkatkannya. Meskipun meningkatkan dosis koagulan pada awalnya dapat membantu menurunkan turbidity dan suspended solids, dosis yang berlebihan dapat menyebabkan partikel kembali stabil, meningkatkan pembentukan sludge, menaikkan konsumsi bahan kimia, dan membuat proses pengolahan berikutnya menjadi lebih sulit. 

Solusinya bukan sekadar menambahkan lebih banyak bahan kimia, tetapi menentukan dan mempertahankan dosis koagulan yang optimum berdasarkan kualitas air aktual dan kinerja proses.

Mengapa Coagulant Overdosing Dapat Menurunkan Kinerja Pengolahan

Koagulasi bekerja dengan mendestabilisasi partikel yang sebelumnya sulit dipisahkan karena adanya muatan pada permukaannya. Ketika dosis koagulan sesuai, partikel dapat bergabung membentuk flok yang lebih besar sehingga lebih mudah dipisahkan melalui sedimentasi, flotasi, atau filtrasi.

Namun, terdapat rentang dosis optimum. Setelah melewati rentang tersebut, penambahan koagulan tidak selalu meningkatkan removal. Penelitian mengenai enhanced coagulation menunjukkan bahwa strategi dan dosis koagulan perlu disesuaikan untuk mencapai pembentukan flok yang efektif sekaligus meminimalkan residual dan penggunaan bahan kimia.

Dalam operasional, coagulant overdosing dapat ditandai dengan:

  • Turbidity meningkat setelah sebelumnya membaik
  • Flok menjadi lebih kecil atau lebih lemah
  • Proses settling menjadi lebih lambat
  • Meningkatnya residual koagulan atau kandungan logam dalam air
  • Perubahan pH atau alkalinitas yang tidak diharapkan
  • Volume sludge meningkat tanpa peningkatan kualitas air yang sebanding

Artinya, dosis bahan kimia yang lebih tinggi tidak selalu berarti proses pengolahan yang lebih baik.

Baca Juga: Koagulan Anorganik vs Organik: Memilih Koagulan yang Tepat

Restabilization: Ketika Dosis Koagulan Berlebih Membalikkan Proses

Salah satu risiko utama coagulant overdosing adalah restabilization atau partikel yang kembali stabil.

Banyak partikel koloid memiliki muatan permukaan negatif sehingga secara alami saling tolak. Koagulan bekerja dengan menetralkan muatan tersebut sehingga partikel menjadi tidak stabil dan dapat bertumbukan untuk membentuk flok. Jika koagulan ditambahkan secara berlebihan, permukaan partikel dapat mengalami charge reversal dan menjadi bermuatan positif. Akibatnya, partikel dapat kembali stabil karena adanya gaya tolak elektrostatik.

Kondisi charge reversal ini dapat menghambat agregasi dan meningkatkan jumlah partikel berukuran kecil yang masih tersisa di dalam air. Penelitian pada pengolahan air permukaan menunjukkan bahwa overdosing dapat menyebabkan charge reversal dan re-stabilization pada partikel yang sebelumnya telah didestabilisasi.

Karena itu, dosis optimum sebaiknya ditentukan melalui pengujian dan pemantauan proses, bukan dengan asumsi bahwa peningkatan dosis akan terus meningkatkan removal.

Sludge Berlebih

Proses koagulasi secara alami menghasilkan sludge karena kontaminan terlarut maupun tersuspensi diubah menjadi flok yang kemudian dipisahkan dari air. Namun, penggunaan koagulan secara berlebihan dapat meningkatkan jumlah padatan kimia yang masuk ke dalam sludge.

Peningkatan sludge dapat berdampak pada beberapa aspek operasional, seperti:

  • Kebutuhan penanganan sludge yang lebih tinggi
  • Peningkatan kebutuhan proses dewatering
  • Pengurasan sludge yang lebih sering
  • Peningkatan kebutuhan transportasi atau disposal
  • Beban yang lebih tinggi pada peralatan pengolahan sludge berikutnya

Sebuah studi tahun 2016 dalam Journal of Environmental Management menyoroti bahwa proses koagulasi-flokulasi menghasilkan lumpur pengolahan air dalam jumlah besar dan pengelolaannya memerlukan pertimbangan yang cermat.

Karena itu, optimasi dosis koagulan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian turbidity yang rendah. Jumlah dan karakteristik sludge yang dihasilkan juga perlu diperhatikan sebagai bagian dari evaluasi kinerja proses.

Baca Juga: Optimalisasi Pengolahan Lumpur (Sludge Water Treatment) untuk Efisiensi dan Keberlanjutan

Biaya Bahan Kimia yang Lebih Tinggi

Coagulant overdosing secara langsung meningkatkan konsumsi bahan kimia. Namun, dampak biayanya tidak berhenti pada pembelian koagulan.

Penambahan koagulan yang berlebihan dapat meningkatkan produksi sludge, memengaruhi kebutuhan pengaturan pH, meningkatkan biaya pengolahan sludge, dan berpotensi menambah beban pada proses berikutnya.

Penelitian mengenai proses coagulation dan wastewater treatment juga menunjukkan bahwa overdosing maupun underdosing dapat memberikan dampak negatif terhadap kinerja pengolahan sekaligus meningkatkan penggunaan bahan kimia.

Bagi fasilitas industri yang beroperasi secara kontinu, peningkatan konsumsi bahan kimia yang terlihat kecil dapat menjadi signifikan dalam jangka panjang. Karena itu, tujuan operasional seharusnya adalah mencapai kualitas air yang dibutuhkan dengan dosis bahan kimia yang optimal, sambil tetap menjaga proses tetap stabil.

Cara Mendeteksi Kelebihan Dosis Koagulan

Coagulant overdosing dapat diidentifikasi melalui kombinasi pengujian laboratorium dan pemantauan parameter operasional. Mengandalkan satu parameter saja dapat membuat diagnosis menjadi kurang akurat.

1. Jar Testing

Jar test merupakan salah satu metode praktis untuk menentukan dosis koagulan yang sesuai. Beberapa variasi dosis dapat diuji dalam kondisi mixing dan settling yang terkontrol sehingga operator dapat membandingkan turbidity, pembentukan flok, karakteristik settling, dan parameter relevan lainnya.

Dosis terbaik bukan selalu dosis tertinggi yang menghasilkan flok yang terlihat. Dosis tersebut harus mampu menghasilkan removal yang efektif dengan karakteristik flok yang baik, tanpa penggunaan bahan kimia yang tidak diperlukan.

2. Zeta Potential

Zeta potential dapat memberikan indikasi mengenai kondisi muatan partikel dan membantu mengidentifikasi apakah proses destabilisasi telah berlangsung secara efektif.

Sebuah artikel tahun 2020 dalam Journal AWWA membahas penggunaan potensial zeta sebagai alat operasional untuk pengendalian koagulasi serta mencatat potensinya dalam melengkapi metode jar test konvensional.

Penelitian terkini juga menunjukkan adanya hubungan antara karakteristik muatan dan kebutuhan koagulan, yang mendukung penggunaan pengukuran muatan untuk pengendalian koagulasi yang lebih responsif.

3. Turbidity and Floc Observation

Turbidity perlu dipantau sebelum dan setelah proses koagulasi, terutama ketika dosis bahan kimia mengalami perubahan. Operator juga perlu memperhatikan ukuran flok, kecepatan pembentukan flok, kemampuan settling, dan kejernihan air setelah proses pemisahan.

Jika peningkatan dosis tidak lagi memberikan perbaikan turbidity atau justru menyebabkan kinerja menurun, dosis perlu dievaluasi kembali.

4. pH and Alkalinity

Penambahan koagulan dapat memengaruhi pH dan mengonsumsi alkalinitas, tergantung pada jenis koagulan dan karakteristik air yang diolah. Pemantauan kedua parameter ini membantu menentukan apakah kinerja koagulasi yang kurang optimal disebabkan oleh dosis yang berlebihan atau kondisi kimia air yang tidak sesuai.

Baca Juga: Jar Test dalam Water Treatment untuk Optimasi Chemical Dosing

Bagaimana LAI Dapat Mendukung Proses Koagulasi yang Lebih Terkontrol

Optimasi proses koagulasi membutuhkan lebih dari sekadar memilih jenis koagulan. Jenis bahan kimia, dosis, karakteristik air, kondisi mixing, dan target pengolahan perlu dipertimbangkan secara bersama.

PT Lautan Air Indonesia (LAI) dapat mendukung kebutuhan pengolahan air dan wastewater industri melalui penyediaan water treatment chemicals, dukungan laboratorium, serta keahlian terkait operasional pengolahan air. Tergantung pada tujuan pengolahan dan karakteristik air, pendekatan yang digunakan dapat mencakup evaluasi jenis koagulan, penentuan kebutuhan dosis, serta dukungan untuk optimasi proses.

Tujuannya bukan sekadar meningkatkan konsumsi bahan kimia, tetapi membantu sistem pengolahan mencapai kualitas air yang konsisten dengan penggunaan bahan kimia dan operasional yang lebih terkendali.

Jika sistem pengolahan Anda menggunakan lebih banyak koagulan tetapi kualitas air tidak menunjukkan peningkatan yang sebanding, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali strategi dosing. Hubungi LAI untuk mendiskusikan kebutuhan water treatment Anda dan menemukan pendekatan koagulasi yang lebih terkontrol.

Referensi
  1. Cui, H., Huang, X., Yu, Z., Chen, P., & Cao, X. (2020). Application progress of enhanced coagulation in water treatment. RSC Advances, 10, 20231-20244.
  2. Ahmad, T., Ahmad, K., Ahad, A., & Alam, M. (2016). Characterization of water treatment sludge and its reuse as coagulant. Journal of Environmental Management, 182, 606-611.
  3. Hart, V. (2020). Zeta Potential: Helping Operators Take Charge. Journal AWWA, 112(9), 44-51.
  4. Impact of an Extreme Winter Storm Event on the Coagulation/Flocculation Processes in a Prototype Surface Water Treatment Plant: Causes and Mitigating Measures (2019). International Journal of Environmental Research and Public Health, 16(15), 2808.
  5. Ruth, D., Jefferson, B., Pereira, R., Moore, G., & Jarvis, P. (2026). Charge measurements for optimised NOM characterisation and removal by coagulation. Journal of Water Process Engineering, 86, 109916.

Bagikan postingan ini: