{"id":7712,"date":"2026-10-21T10:57:32","date_gmt":"2026-10-21T03:57:32","guid":{"rendered":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/?p=7712"},"modified":"2026-11-03T11:29:16","modified_gmt":"2026-11-03T04:29:16","slug":"water-treatment-for-fertilizer","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/publication\/water-treatment-for-fertilizer\/","title":{"rendered":"Pengolahan Air untuk Produksi Pupuk: Panduan Tahap demi Tahap dalam Menjaga Kualitas Air"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengolahan air untuk produksi pupuk berperan penting dalam menjaga kualitas produk, mendukung proses industri, dan mengelola air limbah. Industri pupuk membutuhkan air untuk persiapan bahan baku, reaksi kimia, sistem pendingin, pembangkitan uap, pencucian gas, serta pembersihan peralatan. Namun, air yang tidak diolah dapat mengandung padatan tersuspensi, mineral terlarut, dan berbagai pengotor lain yang dapat mengganggu proses produksi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk menjaga kelancaran operasional, produsen pupuk membutuhkan sistem pengolahan air yang dirancang berdasarkan karakteristik sumber air dan kebutuhan produksi. Pengolahan air yang tepat membantu melindungi peralatan, mengurangi gangguan operasional, serta meningkatkan pengelolaan air di seluruh proses manufaktur.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pentingnya Air dalam Produksi Pupuk<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Air memiliki berbagai fungsi dalam proses manufaktur pupuk, bergantung pada jenis pupuk yang diproduksi, seperti pupuk berbasis nitrogen, fosfat, maupun pupuk majemuk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa penggunaan utama air dalam produksi pupuk meliputi:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Persiapan Bahan Baku:<\/strong> Air digunakan untuk melarutkan, mencampur, dan menyiapkan bahan kimia.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Proses Produksi:<\/strong> Beberapa proses manufaktur membutuhkan air sebagai media reaksi atau untuk mengendalikan kondisi proses.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Sistem Pendingin:<\/strong> Air pendingin membantu menjaga suhu operasional dan mencegah peralatan mengalami panas berlebih.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Boiler dan Pembangkitan Uap:<\/strong> Air yang telah diolah diperlukan untuk menghasilkan uap yang digunakan dalam proses pemanasan dan kebutuhan industri lainnya.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pencucian Gas:<\/strong> Air membantu menangkap debu dan beberapa polutan berbentuk gas yang dihasilkan selama proses produksi.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pembersihan Peralatan:<\/strong> Air digunakan untuk mendukung kegiatan pembersihan dan pemeliharaan peralatan secara rutin.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kualitas air secara langsung memengaruhi kinerja berbagai aplikasi tersebut. Kesadahan yang tinggi dapat menyebabkan pembentukan kerak pada boiler dan heat exchanger, sedangkan padatan tersuspensi berpotensi menyumbat pipa dan peralatan filtrasi. Kandungan garam terlarut yang berlebihan juga dapat meningkatkan risiko kerak dan korosi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebuah studi pada tahun 2020 yang meneliti pabrik pupuk urea di Indonesia melaporkan konsumsi air sekitar 12,8 m\u00b3 untuk setiap ton urea yang diproduksi. Temuan ini menunjukkan pentingnya pengelolaan air yang efisien dalam industri pupuk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/publication\/pulp-and-paper-wastewater-treatment\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Pengolahan Air Limbah Pulp dan Kertas: Tantangan dan Pendekatan Praktis<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tahapan Pengolahan Air untuk Manufaktur Pupuk<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sistem pengolahan air yang efektif perlu dirancang berdasarkan karakteristik air baku dan kebutuhan setiap aplikasi produksi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Langkah 1. Analisis Kualitas Air Baku<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tahap pertama adalah mengidentifikasi karakteristik sumber air, baik yang berasal dari air tanah, sungai, maupun pasokan air kota.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Analisis kualitas air perlu mencakup beberapa parameter berikut:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>pH dan kekeruhan<\/li>\n\n\n\n<li>Total padatan tersuspensi (TSS)<\/li>\n\n\n\n<li>Total padatan terlarut (TDS)<\/li>\n\n\n\n<li>Kesadahan total dan alkalinitas<\/li>\n\n\n\n<li>Besi dan mangan<\/li>\n\n\n\n<li>Klorida dan sulfat<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasil analisis membantu menentukan jenis kontaminan yang perlu dihilangkan sekaligus menetapkan kebutuhan pengolahan air untuk setiap aplikasi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Langkah 2. Menghilangkan Padatan Tersuspensi dan Partikel<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Air baku dapat mengandung pasir, sedimen, tanah liat, dan partikel lainnya yang dapat mengganggu proses pengolahan selanjutnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Proses prapengolahan air secara konvensional umumnya meliputi:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Koagulasi:<\/strong> Penambahan koagulan untuk menetralkan muatan partikel tersuspensi dan koloid.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Flokulasi:<\/strong> Pengadukan perlahan untuk membantu partikel bergabung membentuk flok yang lebih besar.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Sedimentasi:<\/strong> Pengendapan flok di dasar bak klarifikasi.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Filtrasi:<\/strong> Penyaringan menggunakan media filter untuk menghilangkan sisa partikel tersuspensi.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rangkaian proses ini membantu menurunkan kekeruhan dan melindungi pompa, jaringan perpipaan, serta peralatan pengolahan berikutnya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Langkah 3. Mengendalikan Kesadahan dan Mineral Terlarut<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kandungan kalsium dan magnesium dapat menyebabkan pembentukan kerak pada boiler, cooling tower, dan heat exchanger.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bergantung pada kebutuhan aplikasinya, beberapa metode pengolahan yang dapat digunakan antara lain:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Pelunakan Air (Water Softening):<\/strong> Proses pertukaran ion untuk mengurangi kandungan kalsium dan magnesium sehingga kesadahan air menurun.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Reverse Osmosis (RO):<\/strong> Teknologi membran untuk mengurangi garam terlarut dan kontaminan lainnya.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pengolahan Kimia:<\/strong> Penggunaan bahan kimia yang sesuai untuk mengendalikan pembentukan kerak dan korosi.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Metode pengolahan harus disesuaikan dengan standar kualitas air yang dibutuhkan. Sebagai contoh, air umpan boiler mungkin memerlukan proses pelunakan atau demineralisasi, sedangkan air makeup cooling tower membutuhkan pengendalian kesadahan dan alkalinitas.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Langkah 4. Menerapkan Pengolahan Air Sesuai Kebutuhan Aplikasi<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setiap aplikasi dalam produksi pupuk memiliki persyaratan kualitas air yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Sistem Boiler:<\/strong> Demineralisasi dan deaerasi mungkin diperlukan untuk mencegah pembentukan kerak dan korosi.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Cooling Tower:<\/strong> Pengolahan kimia membantu mengendalikan kerak, korosi, dan pertumbuhan mikroorganisme.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Air Proses:<\/strong> Filtrasi, pelunakan, atau pengolahan membran dapat dibutuhkan sesuai kebutuhan produksi.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pencucian Gas:<\/strong> Pemantauan kualitas air dan pengelolaan sirkulasi membantu menjaga kinerja proses pencucian gas.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemilihan teknologi pengolahan berdasarkan kebutuhan masing-masing aplikasi membantu menjaga kestabilan operasional.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Langkah 5. Mengolah Air Limbah dan Mengoptimalkan Penggunaan Kembali Air<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Produksi pupuk dapat menghasilkan air limbah yang mengandung amonia, nitrat, fosfat, padatan tersuspensi, dan fluorida, bergantung pada proses manufakturnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa metode pengolahan yang dapat diterapkan meliputi:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Penyesuaian pH:<\/strong> Mengendalikan tingkat keasaman atau kebasaan air.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Koagulasi dan Presipitasi:<\/strong> Menghilangkan padatan tersuspensi serta kontaminan terlarut tertentu.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pengolahan Biologis:<\/strong> Mengurangi polutan organik yang dapat terurai secara biologis dan mendukung proses penyisihan nitrogen.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Filtrasi dan Adsorpsi:<\/strong> Membantu menghilangkan partikel dan kontaminan terpilih lainnya.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pengolahan Membran:<\/strong> Teknologi RO dapat mendukung pemulihan air agar dapat digunakan kembali.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebuah studi tahun 2024 yang diterbitkan dalam <em>Journal of Environmental Chemical Engineering<\/em> meneliti air limbah dari produksi pupuk fosfat melalui proses basah. Pendekatan pengolahan yang digunakan mampu menurunkan kandungan fluorida sekitar 94% melalui proses netralisasi dan pemisahan. Pengolahan RO pada tahap berikutnya juga berpotensi membantu memulihkan air untuk digunakan kembali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Temuan ini menunjukkan bahwa pengolahan air limbah dapat mendukung pengendalian pencemaran sekaligus pemulihan sumber daya apabila dirancang berdasarkan karakteristik air limbah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/publication\/water-treatment-for-electronics-manufacturing\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Pentingnya Pengolahan Air dalam Manufaktur Elektronik<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Mendukung Produksi Pupuk Melalui Solusi Pengolahan Air Terintegrasi<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengelolaan kualitas air membutuhkan lebih dari sekadar pemilihan peralatan pengolahan. Proses ini melibatkan pemahaman terhadap karakteristik air baku, kebutuhan produksi, sistem utilitas, hingga pengelolaan air limbah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lautan Air Indonesia (LAI) mendukung kebutuhan pengolahan air di sektor industri melalui solusi terintegrasi, yang mencakup:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Engineering Pengolahan Air:<\/strong> Mengembangkan konfigurasi sistem pengolahan berdasarkan karakteristik air dan kebutuhan industri.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Bahan Kimia Pengolahan Air Industri:<\/strong> Menyediakan solusi bahan kimia untuk proses koagulasi, flokulasi, dan pengelolaan kualitas air.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Operation and Maintenance (O&amp;M):<\/strong> Mendukung operasional instalasi pengolahan air, pemantauan proses, dan pemeliharaan sistem.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Solusi Pengolahan Air Limbah:<\/strong> Mendukung proses pengolahan untuk mengelola kontaminan dan memenuhi persyaratan baku mutu air limbah yang berlaku.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Integrasi Peralatan dan Sistem:<\/strong> Menyediakan peralatan pengolahan dan sistem terintegrasi untuk berbagai aplikasi industri.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan menggabungkan keahlian engineering, bahan kimia pengolahan air, dan dukungan operasional, LAI membantu produsen pupuk mengelola kualitas air dan menjaga kinerja sistem pengolahan secara lebih efektif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ingin meningkatkan kualitas air dan efisiensi pengolahan di fasilitas produksi pupuk Anda? <a href=\"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/contact-us\/\" target=\"_blank\" data-type=\"page\" data-id=\"1567\" rel=\"noreferrer noopener\">Hubungi Lautan Air Indonesia<\/a> untuk mendiskusikan kebutuhan pengolahan air industri dan menemukan solusi yang sesuai dengan proses produksi Anda.<\/p>\n\n\n\n<details class=\"wp-block-details is-layout-flow wp-block-details-is-layout-flow\"><summary>Referensi: <\/summary>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fiamelda, L., Suprihatin, &amp; Purwoko. (2020). <a href=\"https:\/\/iopscience.iop.org\/article\/10.1088\/1755-1315\/472\/1\/012034\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><em>Analysis of water and electricity consumption of urea fertilizer industry: case study PT. X<\/em><\/a>. IOP Conference Series Earth and Environmental Science, 472(1), 012034.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hogen, T., Barbana, N., Kemper, S., Becker, J. M., Al-Addous, M., &amp; Geissen, S. (2024). <a href=\"https:\/\/www.sciencedirect.com\/science\/article\/pii\/S2213343724018293\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><em>A contribution to the development of a process to valorize the wastewater of wet phosphate fertilizer production<\/em><\/a>. Journal of Environmental Chemical Engineering, 12(5), 113699.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Zueva, S. B., Ferella, F., Taglieri, G., De Michelis, I., Pugacheva, I., &amp; Vegli\u00f2, F. (2020). <a href=\"https:\/\/www.mdpi.com\/2071-1050\/12\/1\/397\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><em>Zero-Liquid Discharge Treatment of Wastewater from a Fertilizer Factory<\/em><\/a>. Sustainability, 12(1), 397.<\/p>\n<\/details>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Water treatment for fertilizer production plays an important role in maintaining product quality, supporting industrial processes, and managing wastewater. Fertilizer manufacturing requires water for raw material preparation, chemical reactions, cooling systems, steam generation, gas scrubbing, and equipment cleaning. However, untreated water may contain suspended solids, dissolved minerals, and other impurities that interfere with production. To maintain stable operations, fertilizer manufacturers need treatment systems designed around their water sources and production requirements. Proper water treatment helps protect equipment, reduce operational disruptions, and improve water management throughout the manufacturing process. Importance of Water in Fertilizer Production Water serves several functions in fertilizer manufacturing, depending on the fertilizer type, including nitrogen-based, phosphate-based, and compound fertilizers. Its main applications include: Water quality directly affects these applications. High hardness can cause scale formation in boilers and heat exchangers, while suspended solids may clog pipelines and filtration equipment. Excessive dissolved salts can also increase scaling and corrosion risks. A 2020 study examining an Indonesian urea fertilizer plant reported water consumption of approximately 12.8 m\u00b3 per ton of urea produced. This highlights the importance of efficient water management in fertilizer manufacturing. Read Also: Pulp and Paper Wastewater Treatment: Challenges and Practical Approaches Step-by-Step Water Treatment for Fertilizer Manufacturing An effective water treatment system should be designed according to incoming water characteristics and the requirements of each production application. Step 1. Analyze Raw Water Quality The first step is to identify the characteristics of the water source, whether groundwater, rivers, or municipal supplies. Water quality analysis should include: The results help determine which contaminants need to be removed and establish appropriate treatment requirements for each application. Step 2. Remove Suspended Solids and Particles Raw water may contain sand, sediment, clay, and other particles that interfere with downstream treatment. Conventional pretreatment generally involves: This process reduces turbidity and protects pumps, pipelines, and downstream equipment. Step 3. Control Hardness and Dissolved Minerals Calcium and magnesium can cause scaling in boilers, cooling towers, and heat exchangers. Depending on the application, treatment options include: The treatment method should match the required water quality. Boiler feedwater, for example, may require softening or demineralization, while cooling tower makeup water requires controlled hardness and alkalinity. Step 4. Apply Application-Specific Treatment Different fertilizer production applications have different water quality requirements. Selecting treatment technologies based on individual applications helps maintain stable operations. Step 5. Treat Wastewater and Optimize Water Reuse Fertilizer production can generate wastewater containing ammonia, nitrates, phosphates, suspended solids, and fluorides, depending on the manufacturing process. Treatment methods may include: A 2024 study in the Journal of Environmental Chemical Engineering investigated wastewater from wet phosphate fertilizer production. Its treatment approach achieved approximately 94% fluoride reduction through neutralization and separation processes. Subsequent RO treatment offered potential for water recovery. This demonstrates how wastewater treatment can support pollution control and resource recovery when designed around wastewater characteristics. Read Also: The Importance of Water Treatment for Electronics Manufacturing Supporting Fertilizer Production Through Integrated Water Solutions Managing water quality requires more than selecting individual treatment equipment. It involves understanding raw water characteristics, production requirements, utility systems, and wastewater management. Lautan Air Indonesia (LAI) supports industrial facilities through integrated water treatment solutions, including: By combining engineering expertise, treatment chemicals, and operational support, LAI helps manufacturers manage water quality and maintain treatment system performance. Looking to improve water quality and treatment efficiency in your fertilizer manufacturing facility? Contact Lautan Air Indonesia to discuss your industrial water treatment requirements and explore a solution suited to your production processes.<\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":7713,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[32],"tags":[],"class_list":["post-7712","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-publication"],"rttpg_featured_image_url":{"full":["https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/water-treatment-for-fertilizer.jpg",1200,675,false],"landscape":["https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/water-treatment-for-fertilizer.jpg",1200,675,false],"portraits":["https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/water-treatment-for-fertilizer.jpg",1200,675,false],"thumbnail":["https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/water-treatment-for-fertilizer-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/water-treatment-for-fertilizer-300x169.jpg",300,169,true],"large":["https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/water-treatment-for-fertilizer-1024x576.jpg",1024,576,true],"1536x1536":["https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/water-treatment-for-fertilizer.jpg",1200,675,false],"2048x2048":["https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/water-treatment-for-fertilizer.jpg",1200,675,false],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/water-treatment-for-fertilizer-18x10.jpg",18,10,true]},"rttpg_author":{"display_name":"Admin Digital","author_link":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/author\/admin-digital\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/category\/publication\/\" rel=\"category tag\">Publication<\/a>","rttpg_excerpt":"Water treatment for fertilizer production plays an important role in maintaining product quality, supporting industrial processes, and managing wastewater. Fertilizer manufacturing requires water for raw material preparation, chemical reactions, cooling systems, steam generation, gas scrubbing, and equipment cleaning. However, untreated water may contain suspended solids, dissolved minerals, and other impurities that interfere with production. To&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7712","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7712"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7712\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7714,"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7712\/revisions\/7714"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7713"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7712"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7712"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7712"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}