{"id":7055,"date":"2026-06-30T13:35:37","date_gmt":"2026-06-30T06:35:37","guid":{"rendered":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/?p=7055"},"modified":"2026-06-09T14:59:26","modified_gmt":"2026-06-09T07:59:26","slug":"low-dissolved-oxygen-in-aeration-tank","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/publication\/low-dissolved-oxygen-in-aeration-tank\/","title":{"rendered":"Dissolved Oxygen Rendah di Aeration Tank: Penyebab dan Cara Mengatasinya"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Dissolved oxygen rendah di aeration tank merupakan salah satu penyebab paling umum menurunnya kinerja proses biologis pada instalasi pengolahan air limbah. Ketika kadar oksigen terlarut berada di bawah batas yang dibutuhkan, mikroorganisme yang berperan menguraikan polutan organik tidak dapat bekerja secara optimal. Akibatnya, efisiensi pengolahan menurun, kualitas efluen memburuk, dan risiko ketidaksesuaian terhadap regulasi menjadi lebih tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kabar baiknya, masalah dissolved oxygen rendah umumnya dapat diidentifikasi dan diatasi melalui pemantauan yang tepat, optimasi sistem aerasi, serta pengendalian proses yang baik.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mengapa Dissolved Oxygen Penting dalam Aeration Tank?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aeration tank merupakan bagian utama dalam proses pengolahan air limbah biologis. Pada sistem activated sludge, mikroorganisme membutuhkan oksigen untuk mengonsumsi dan menguraikan kontaminan organik yang terkandung dalam air limbah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagian besar instalasi pengolahan air limbah mempertahankan kadar dissolved oxygen pada kisaran 2,0 hingga 4,0 mg\/L, meskipun nilai optimal dapat berbeda tergantung desain proses dan karakteristik air limbah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika pasokan oksigen tidak mencukupi, aktivitas biologis akan melambat dan memicu berbagai masalah operasional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/publication\/dissolved-oxygen-in-wastewater\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Dissolved Oxygen dalam Air Limbah: Peran dan Pentingnya dalam Pengolahan<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tanda-Tanda Dissolved Oxygen Rendah di Aeration Tank<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Operator dapat menemukan beberapa indikasi berikut ketika kadar dissolved oxygen terlalu rendah:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Nilai BOD dan COD pada efluen meningkat<\/li>\n\n\n\n<li>Konsentrasi amonia tinggi akibat proses nitrifikasi yang tidak sempurna<\/li>\n\n\n\n<li>Mixed liquor berwarna lebih gelap<\/li>\n\n\n\n<li>Timbul bau tidak sedap dari aeration basin<\/li>\n\n\n\n<li>Terjadi sludge bulking atau penurunan kualitas pengendapan lumpur<\/li>\n\n\n\n<li>Aktivitas mikroorganisme menurun<\/li>\n\n\n\n<li>Muncul foam berlebih pada kondisi tertentu<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika gejala-gejala tersebut terjadi secara konsisten, maka dissolved oxygen menjadi salah satu parameter utama yang perlu diperiksa.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Penyebab Umum Dissolved Oxygen Rendah di Aeration Tank<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Memahami akar masalah sangat penting sebelum melakukan tindakan perbaikan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Pasokan Udara Tidak Mencukupi<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu penyebab paling umum adalah suplai udara dari sistem aerasi yang tidak memadai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kondisi ini dapat terjadi karena:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Kapasitas blower terlalu kecil<\/li>\n\n\n\n<li>Performa blower menurun<\/li>\n\n\n\n<li>Pengaturan aliran udara tidak optimal<\/li>\n\n\n\n<li>Kebutuhan oksigen meningkat melebihi kapasitas desain<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika beban air limbah meningkat, kebutuhan oksigen juga akan meningkat. Peralatan aerasi yang ada mungkin tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Diffuser Kotor atau Rusak<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Diffuser memiliki peran penting dalam mentransfer oksigen ke dalam air limbah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seiring waktu, diffuser dapat mengalami penyumbatan akibat:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Pertumbuhan biologis<\/li>\n\n\n\n<li>Scaling mineral<\/li>\n\n\n\n<li>Akumulasi padatan tersuspensi<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika diffuser mengalami fouling, efisiensi transfer oksigen akan menurun secara signifikan meskipun laju aliran udara masih normal.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Beban Organik Terlalu Tinggi<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peningkatan mendadak pada BOD atau COD influen dapat menyebabkan konsumsi oksigen meningkat drastis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa penyebab yang umum terjadi antara lain:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Gangguan proses produksi<\/li>\n\n\n\n<li>Perubahan proses operasional<\/li>\n\n\n\n<li>Fluktuasi buangan industri<\/li>\n\n\n\n<li>Shock loading<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam kondisi ini, mikroorganisme mengonsumsi oksigen lebih cepat dibandingkan kemampuan sistem aerasi untuk menyuplainya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Konsentrasi Mixed Liquor Terlalu Tinggi<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nilai Mixed Liquor Suspended Solids (MLSS) yang terlalu tinggi akan meningkatkan kebutuhan oksigen di dalam aeration basin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meskipun jumlah biomassa yang cukup diperlukan untuk proses pengolahan, MLSS yang berlebihan dapat menyebabkan keterbatasan oksigen dan menurunkan efisiensi pengolahan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">5. Pencampuran di Aeration Basin Kurang Optimal<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meskipun pasokan udara mencukupi, proses mixing yang tidak merata dapat menciptakan area dead zone di dalam aeration tank.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Area-area ini mungkin mengalami konsentrasi oksigen rendah sementara bagian lain mempertahankan tingkat DO yang dapat diterima.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Distribusi oksigen yang tidak merata seringkali menyebabkan kinerja biologis yang tidak konsisten.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/publication\/role-of-aeration-in-water-treatment\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Peran Aeration dalam Pengolahan Air: Mengapa Penting dan Bagaimana Prosesnya<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">6. Kerusakan Peralatan<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masalah mekanis dapat dengan cepat menyebabkan penurunan kadar dissolved oxygen.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh meliputi:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Kerusakan blower<\/li>\n\n\n\n<li>Impeller yang rusak<\/li>\n\n\n\n<li>Kebocoran pada sistem perpipaan udara<\/li>\n\n\n\n<li>Control valve yang tidak berfungsi dengan baik<\/li>\n\n\n\n<li>Sensor dissolved oxygen yang tidak akurat<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemeriksaan dan perawatan rutin sangat penting untuk mencegah penurunan performa yang tidak terduga.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Cara Mengatasi Dissolved Oxygen Rendah di Aeration Tank<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah penyebab utama ditemukan, langkah perbaikan dapat dilakukan secara lebih efektif.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Optimalkan Kinerja Sistem Aerasi<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lakukan evaluasi terhadap kapasitas blower, distribusi udara, dan efisiensi transfer oksigen.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa tindakan yang dapat dilakukan antara lain:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Meningkatkan laju aliran udara<\/li>\n\n\n\n<li>Menyesuaikan jadwal operasi blower<\/li>\n\n\n\n<li>Menyeimbangkan distribusi udara pada setiap zona aerasi<\/li>\n\n\n\n<li>Melakukan upgrade peralatan aerasi jika diperlukan<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Evaluasi sistem aerasi yang menyeluruh sering kali dapat meningkatkan transfer oksigen tanpa investasi besar.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Bersihkan atau Ganti Diffuser<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemeriksaan dan pembersihan diffuser secara berkala dapat mengembalikan efisiensi transfer oksigen.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apabila diffuser sudah mengalami scaling atau kerusakan yang parah, penggantian sering kali menjadi pilihan yang lebih efektif.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Kendalikan Beban Organik<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengurangi shock load dapat membantu menstabilkan kebutuhan oksigen.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa strategi yang dapat diterapkan meliputi:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Pemanfaatan equalization tank<\/li>\n\n\n\n<li>Optimasi proses di bagian upstream<\/li>\n\n\n\n<li>Pemisahan aliran limbah yang lebih baik<\/li>\n\n\n\n<li>Pengaturan jadwal produksi yang lebih stabil<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beban influen yang lebih konsisten akan memudahkan pengendalian dissolved oxygen.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Optimalkan MLSS<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lakukan pemantauan sludge age dan inventaris biomassa secara rutin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Program sludge wasting yang tepat dapat membantu menjaga keseimbangan antara kapasitas pengolahan dan kebutuhan oksigen.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">5. Tingkatkan Efisiensi Mixing<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Periksa kondisi hidraulik dan efektivitas pencampuran di dalam aeration basin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada beberapa kasus, penambahan mixer atau penyesuaian sistem aerasi diperlukan untuk menghilangkan dead zone dan meningkatkan distribusi oksigen.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">6. Terapkan Monitoring Real-Time<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemantauan dissolved oxygen secara kontinu memungkinkan operator mengetahui kondisi proses secara langsung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sensor online dan sistem kontrol otomatis dapat menyesuaikan kebutuhan aerasi secara dinamis sehingga kadar oksigen tetap optimal sekaligus membantu mengurangi konsumsi energi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/publication\/high-dissolved-oxygen\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Pengaruh Dissoved Oxygen Tinggi dalam Tangki Aerasi<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Cara Mencegah Masalah Dissolved Oxygen Rendah<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendekatan preventif umumnya lebih efektif dibandingkan tindakan korektif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Praktik terbaik mencakup:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Perawatan blower secara berkala<\/li>\n\n\n\n<li>Inspeksi diffuser rutin<\/li>\n\n\n\n<li>Monitoring dissolved oxygen secara kontinu<\/li>\n\n\n\n<li>Evaluasi performa proses secara berkala<\/li>\n\n\n\n<li>Optimasi MLSS dan sludge age<\/li>\n\n\n\n<li>Pengelolaan aerasi yang efisien dari sisi energi<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan kombinasi pengendalian proses dan program maintenance yang baik, risiko gangguan operasional dapat diminimalkan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Dukungan Lautan Air Indonesia untuk Optimasi Pengolahan Air Limbah<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menjaga kadar dissolved oxygen yang optimal tidak hanya bergantung pada penambahan udara. Diperlukan pemahaman yang menyeluruh mengenai proses biologis, performa peralatan, karakteristik air limbah, serta target operasional yang ingin dicapai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lautan Air Indonesia mendukung fasilitas pengolahan air limbah industri maupun munisipal melalui berbagai solusi terintegrasi, seperti:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Optimasi instalasi pengolahan air limbah<\/li>\n\n\n\n<li>Evaluasi sistem aerasi<\/li>\n\n\n\n<li>Analisis dan peningkatan performa proses<\/li>\n\n\n\n<li>Sistem monitoring dan otomasi melalui PureSense<\/li>\n\n\n\n<li>Pengujian laboratorium dan analisa kualitas air<\/li>\n\n\n\n<li>Layanan operation &amp; maintenance<\/li>\n\n\n\n<li>Program optimasi kimia dan proses<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tim kami bekerja bersama operator untuk mengidentifikasi bottleneck, meningkatkan efisiensi pengolahan, serta membantu memenuhi persyaratan regulasi dengan operasional yang lebih andal.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Butuh Bantuan Mengoptimalkan Sistem Pengolahan Air Limbah Anda?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lautan Air Indonesia menyediakan solusi komprehensif untuk pengolahan air limbah, optimasi proses, sistem monitoring, serta dukungan teknis untuk membantu menjaga kadar dissolved oxygen tetap stabil dan kinerja instalasi tetap optimal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/contact-us\/\" target=\"_blank\" data-type=\"page\" data-id=\"1567\" rel=\"noreferrer noopener\">Hubungi tim kami<\/a> hari ini untuk mendiskusikan tantangan pengolahan air limbah di fasilitas Anda dan menemukan solusi yang tepat sesuai kebutuhan operasional.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Low dissolved oxygen in aeration tank systems is one of the most common causes of poor biological treatment performance in wastewater treatment plants. When dissolved oxygen (DO) levels fall outside the required range, microorganisms that break down organic pollutants become less effective, leading to reduced treatment efficiency, poor effluent quality, and potential regulatory compliance issues. The good news is that low DO problems can often be identified and corrected through proper monitoring, aeration system optimization, and process control. Why Dissolved Oxygen Is Important in an Aeration Tank The aeration tank is the heart of a biological wastewater treatment process. In activated sludge systems, microorganisms require oxygen to consume and degrade organic contaminants in wastewater. Most wastewater treatment plants aim to maintain dissolved oxygen levels between 2.0 and 4.0 mg\/L, although the optimal range may vary depending on the process design and wastewater characteristics. When oxygen supply becomes insufficient, biological activity slows down, leading to operational problems throughout the treatment system. Read Also: Dissolved Oxygen in Wastewater: Its Role and Importance in Treatment Signs of Low Dissolved Oxygen in an Aeration Tank Operators may notice several warning signs when dissolved oxygen levels are too low: If these symptoms appear consistently, dissolved oxygen should be one of the first parameters evaluated. Common Causes of Low Dissolved Oxygen in Aeration Tank Systems Understanding the root cause is essential before implementing corrective actions. 1. Insufficient Air Supply One of the most common causes is inadequate airflow from the aeration system. This may occur due to: As wastewater loading increases, the oxygen requirement also increases. Existing aeration equipment may struggle to meet the higher demand. 2. Fouled or Damaged Diffusers Diffusers play a critical role in transferring oxygen into the wastewater. Over time, diffusers can become clogged by: When fouling occurs, oxygen transfer efficiency decreases significantly, resulting in lower dissolved oxygen levels despite normal airflow rates. 3. High Organic Loading A sudden increase in influent BOD or COD can dramatically increase oxygen consumption. Common sources include: In these situations, microorganisms consume oxygen faster than the aeration system can replenish it. 4. Excessive Mixed Liquor Concentration High Mixed Liquor Suspended Solids (MLSS) levels increase oxygen demand throughout the aeration basin. While maintaining sufficient biomass is important, excessive MLSS can create oxygen limitations and reduce treatment efficiency. 5. Poor Aeration Basin Mixing Even when adequate air is supplied, poor mixing can create dead zones within the aeration tank. These areas may experience low oxygen concentrations while other sections maintain acceptable DO levels. Uneven oxygen distribution often leads to inconsistent biological performance. Read Also: The Role of Aeration in Water Treatment: Why It Matters and How It Works 6. Equipment Malfunction Mechanical issues can quickly reduce oxygen availability. Examples include: Routine inspection and maintenance are essential for preventing unexpected performance losses. How to Fix Low Dissolved Oxygen in an Aeration Tank Once the root cause has been identified, operators can implement targeted corrective actions. 1. Optimize Aeration System Performance Evaluate blower capacity, airflow distribution, and oxygen transfer efficiency. Actions may include: A detailed aeration assessment can often reveal opportunities to improve oxygen transfer without significant capital investment. 2. Clean or Replace Diffusers Regular diffuser inspection and cleaning help restore oxygen transfer efficiency. For heavily scaled or damaged diffusers, replacement may be more cost-effective than repeated cleaning. 3. Control Organic Loading Reducing shock loads can stabilize oxygen demand. Strategies include: A more stable influent load allows operators to maintain consistent DO levels. 4. Optimize MLSS Levels Review sludge age and biomass inventory regularly. Proper sludge wasting practices help maintain an appropriate balance between treatment capacity and oxygen demand. 5. Improve Mixing Efficiency Check aeration basin hydraulics and mixing performance. Additional mixers or aeration adjustments may be required to eliminate dead zones and improve oxygen distribution. 6. Implement Real-Time Monitoring Continuous dissolved oxygen monitoring provides operators with immediate visibility into process conditions. Online sensors and automated control systems can adjust aeration rates dynamically, helping maintain optimal oxygen levels while minimizing energy consumption. Read Also: The Effect of High Dissolved Oxygen in an Aeration Tank Preventing Future Low DO Problems A proactive approach is often more effective than corrective action. Best practices include: By combining process control with preventive maintenance, facilities can reduce operational risks and improve treatment consistency. How Lautan Air Indonesia Supports Wastewater Treatment Performance Maintaining proper dissolved oxygen levels requires more than simply adding air. It involves understanding biological treatment processes, equipment performance, wastewater characteristics, and operational objectives. Lautan Air Indonesia supports industrial and municipal wastewater treatment facilities through integrated water and wastewater management solutions, including: Our team works closely with plant operators to identify performance bottlenecks, improve treatment efficiency, and support regulatory compliance while maintaining operational reliability. Need Help Optimizing Your Wastewater Treatment Plant? Lautan Air Indonesia provides comprehensive wastewater treatment solutions, process optimization services, monitoring systems, and technical support to help maintain stable dissolved oxygen levels and reliable treatment performance. Contact our team today to discuss your wastewater treatment challenges and identify the right solution for your facility.<\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":7056,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[32],"tags":[],"class_list":["post-7055","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-publication"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7055","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7055"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7055\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7056"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7055"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7055"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.lautanairindonesia.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7055"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}