Characteristics of Dairy Wastewater and Its Treatment Stages

dairy wastewater treatment

Pengolahan air limbah industri susu (dairy wastewater treatment) memerlukan proses yang dirancang berdasarkan beban organik, kandungan lemak, padatan tersuspensi, dan fluktuasi pH dalam air limbah. Tanpa pengolahan yang tepat, air limbah dari proses pengolahan susu, produksi keju, dan pencucian peralatan dapat membebani sistem pengolahan serta mencemari badan air penerima.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Food Technology and Biotechnology mengidentifikasi proses mekanis, fisikokimia, dan biologis sebagai pendekatan penting dalam pengelolaan air limbah industri susu. Namun, efektivitas pengolahan bergantung pada komposisi air limbah, variasi debit, serta kombinasi teknologi yang digunakan. 

Bagi industri pengolahan susu, prioritas utamanya adalah mengidentifikasi karakteristik air limbah yang memengaruhi kinerja pengolahan, kemudian menentukan tahapan pengolahan yang sesuai. Pendekatan ini membantu menjaga kestabilan operasional, mengendalikan beban pencemar, dan mencapai kualitas efluen yang dipersyaratkan sebelum dibuang.

Karakteristik Air Limbah Industri Susu

Air limbah industri susu dihasilkan dari proses pengolahan susu, pemisahan produk, serta pencucian peralatan dan sistem cleaning-in-place (CIP). Komposisinya bervariasi, bergantung pada jenis produk yang dihasilkan, jadwal produksi, dan prosedur pembersihan yang diterapkan.

Memahami karakteristik tersebut merupakan langkah penting dalam menentukan proses pengolahan yang tepat.

1. Beban Organik yang Tinggi

Susu dan produk olahannya mengandung laktosa, protein, dan lemak. Ketika zat-zat tersebut masuk ke dalam air limbah, nilai biological oxygen demand (BOD) dan chemical oxygen demand (COD) dapat meningkat.

BOD menunjukkan kebutuhan oksigen oleh mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik yang dapat terbiodegradasi, sedangkan COD mengukur kebutuhan oksigen ekuivalen untuk mengoksidasi zat-zat dalam air limbah secara kimiawi.

Nilai BOD dan COD yang tinggi dapat meningkatkan beban kerja sistem pengolahan serta mengurangi oksigen terlarut di badan air penerima apabila efluen tidak diolah dengan memadai.

Implikasi terhadap pengolahan: Beban organik perlu dikurangi melalui prapengolahan dan proses biologis yang sesuai. Untuk air limbah dengan beban organik tinggi, pengolahan anaerobik dapat dipertimbangkan sebelum pengolahan aerobik, bergantung pada karakteristik air limbah dan kualitas efluen yang ditargetkan.

Baca Juga: Cleaning dan Sanitasi dalam Manufaktur Pangan

2. Lemak, Minyak, dan Padatan Tersuspensi

Sisa susu, krim, mentega, dan proses produksi keju dapat memasukkan lemak, minyak, serta padatan tersuspensi ke dalam air limbah. Material ini dapat menumpuk di tangki dan pipa, mengganggu proses pengolahan, serta meningkatkan produksi lumpur.

Konsentrasinya bergantung pada jenis lini produksi dan jumlah produk yang terbawa selama proses produksi maupun pencucian.

Implikasi terhadap pengolahan: Penyaringan, pemisahan padatan, pemisahan lemak, atau proses fisikokimia seperti koagulasi dan flotasi mungkin diperlukan untuk mengurangi beban pencemar sebelum air limbah memasuki unit pengolahan berikutnya.

3. Fluktuasi pH dan Bahan Kimia Pembersih

Fasilitas industri susu menggunakan bahan pembersih yang bersifat asam dan basa untuk menjaga kebersihan peralatan. Ketika air limbah dari berbagai siklus pembersihan bercampur, pH-nya dapat mengalami perubahan yang cukup signifikan.

Sisa bahan sanitasi dan bahan kimia pembersih juga dapat memengaruhi mikroorganisme yang berperan dalam pengolahan biologis.

Implikasi terhadap pengolahan: Bak ekualisasi dan penyesuaian pH membantu menstabilkan kondisi air limbah. Pembuangan air limbah dari proses pembersihan juga perlu dikelola agar tidak menimbulkan lonjakan beban kimia atau hidraulis yang dapat mengganggu sistem pengolahan biologis.

4. Variasi Debit dan Konsentrasi Nutrien

Produksi air limbah sering kali mengikuti jadwal produksi dan pencucian peralatan. Akibatnya, debit dan konsentrasi pencemar dapat berubah sepanjang hari.

Air limbah industri susu juga dapat mengandung nitrogen dan fosfor. Meskipun kedua unsur ini mendukung pertumbuhan mikroorganisme, konsentrasi yang berlebihan mungkin memerlukan proses penghilangan tambahan agar memenuhi persyaratan pembuangan.

Implikasi terhadap pengolahan: Ekualisasi, pemilihan proses biologis yang tepat, dan pemantauan efluen membantu mengakomodasi variasi operasional serta menjaga kinerja pengolahan.

Karakteristik tersebut dibahas dalam penelitian mengenai komposisi dan teknologi pengolahan air limbah industri susu. Kombinasi berbagai karakteristik ini menunjukkan pentingnya mengevaluasi kondisi air limbah aktual, bukan hanya mengandalkan nilai rata-rata industri, saat menentukan sistem pengolahan. 

Baca Juga: Biological Nutrient Removal dalam Wastewater Treatment (Pengolahan Air Limbah)

Tahapan Pengolahan Air Limbah Industri Susu

Sistem pengolahan air limbah industri susu yang efektif menggabungkan beberapa proses berdasarkan karakteristik air limbah, tujuan pengolahan, ketersediaan ruang, dan persyaratan pembuangan yang berlaku. Berikut adalah gambaran umum tahapan pengolahan yang dapat diterapkan pada fasilitas industri susu.

1. Prapengolahan dan Penyaringan

Tahap pertama bertujuan menghilangkan padatan kasar dan kotoran sebelum air limbah memasuki unit pengolahan berikutnya.

Saringan dan sistem pengumpulan dapat digunakan untuk menangkap partikel berukuran besar. Sementara itu, peralatan pemisahan yang sesuai dapat ditambahkan untuk menangani padatan dan lemak yang mengapung.

Tahap ini membantu mengurangi risiko penyumbatan serta membatasi penumpukan material yang tidak diinginkan di dalam pompa, pipa, dan tangki pengolahan.

2. Ekualisasi Debit dan Penyesuaian pH

Setelah prapengolahan, air limbah ditampung dalam bak ekualisasi untuk menyeimbangkan variasi debit dan konsentrasi pencemar.

Pengadukan membantu menjaga komposisi air limbah tetap lebih seragam, sedangkan penyesuaian pH dapat dilakukan untuk mencapai kondisi yang sesuai bagi proses pengolahan selanjutnya.

Tahap ini sangat penting ketika aktivitas produksi dan CIP menghasilkan air limbah dengan debit, suhu, atau karakteristik kimia yang berbeda.

Ekualisasi yang tepat membantu mengurangi risiko perubahan beban secara mendadak yang dapat mengganggu proses pengolahan biologis. 

3. Pengolahan Fisikokimia

Pengolahan fisikokimia digunakan ketika padatan tersuspensi, lemak yang teremulsi, atau kontaminan lain perlu dikurangi sebelum pengolahan biologis.

Bergantung pada karakteristik air limbah, proses ini dapat mencakup koagulasi dan flokulasi, sedimentasi, atau dissolved air flotation (DAF).

Koagulasi membantu mendestabilisasi partikel halus, sedangkan flokulasi mendorong partikel tersebut bergabung membentuk gumpalan yang lebih besar sehingga lebih mudah dipisahkan. DAF memanfaatkan gelembung udara untuk membantu mengangkat partikel tersuspensi dan lemak tertentu ke permukaan agar dapat disisihkan.

Konfigurasi yang tepat bergantung pada jenis dan konsentrasi kontaminan. Tahap ini dapat mengurangi beban pencemar yang masuk ke sistem biologis, meskipun mungkin memerlukan penambahan bahan kimia dan menghasilkan lumpur tambahan. 

4. Pengolahan Biologis

Pengolahan biologis memanfaatkan mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik yang dapat terbiodegradasi serta menurunkan nilai BOD dan COD.

Dua pendekatan yang umum digunakan adalah pengolahan aerobik dan anaerobik.

  • Pengolahan aerobik: Memanfaatkan mikroorganisme yang bekerja dengan bantuan oksigen. Sistem lumpur aktif dan sequencing batch reactor (SBR) merupakan contoh teknologi yang dapat diterapkan pada air limbah industri susu.
  • Pengolahan anaerobik: Menguraikan bahan organik tanpa oksigen. Proses ini dapat sesuai untuk air limbah dengan beban organik tinggi dan berpotensi menghasilkan biogas dalam kondisi operasional yang tepat.

Beberapa fasilitas menggabungkan proses anaerobik dan aerobik. Pengolahan anaerobik dapat mengurangi sebagian besar beban organik, sedangkan proses aerobik berikutnya membantu menurunkan sisa bahan organik yang masih dapat terbiodegradasi.

Pemilihan proses bergantung pada beban organik, karakteristik air limbah, kondisi operasional, kebutuhan energi, dan kualitas efluen yang ditargetkan. Pengolahan biologis juga memerlukan pengendalian pH, laju pembebanan, serta zat-zat yang berpotensi menghambat aktivitas mikroorganisme agar proses tetap berjalan dengan baik. 

5. Pengolahan Lanjutan dan Verifikasi Kualitas Efluen

Setelah pengolahan awal dan biologis, proses tambahan mungkin diperlukan untuk memenuhi persyaratan pembuangan atau kebutuhan penggunaan kembali air.

Bergantung pada hasil pengolahan, proses lanjutan dapat mencakup filtrasi, penghilangan nutrien, disinfeksi, atau teknologi berbasis membran.

Kualitas efluen akhir perlu dipantau berdasarkan persyaratan pembuangan yang berlaku. Parameter yang relevan dapat meliputi pH, BOD, COD, total padatan tersuspensi (TSS), serta parameter lain yang ditetapkan dalam izin atau peraturan terkait.

Pemantauan rutin juga membantu mendeteksi penurunan kinerja sejak dini sehingga operator dapat menyelidiki penyebabnya sebelum terjadi ketidakpatuhan terhadap persyaratan lingkungan.

Tidak semua fasilitas industri susu memerlukan konfigurasi pengolahan lanjutan yang sama. Kebutuhan akan proses tambahan harus ditentukan berdasarkan tujuan pembuangan atau penggunaan kembali air.

Baca Juga: Water Treatment untuk Industri Makanan dan Minuman (F&B): Pendekatan Praktis untuk Kualitas dan Keamanan

Menyesuaikan Pengolahan Air Limbah Industri Susu dengan Kebutuhan Operasional

Pemilihan proses pengolahan air limbah industri susu yang tepat tidak cukup hanya dengan menentukan teknologi secara terpisah. Setiap tahapan harus saling mendukung untuk mengakomodasi variasi produksi, mengendalikan beban pencemar, dan menjaga kualitas efluen secara konsisten.

Lautan Air Indonesia (LAI) menyediakan kapabilitas pengolahan air dan air limbah untuk mendukung fasilitas industri dalam mengembangkan sistem pengolahan yang sesuai dengan kebutuhan operasionalnya.

Bergantung pada lingkup proyek, dukungan ini dapat mencakup rekayasa dan pengembangan sistem pengolahan, pertimbangan proses, serta dukungan operasional dan pemeliharaan (operation and maintenance atau O&M). Evaluasi kondisi di lokasi dapat membantu mengidentifikasi karakteristik air limbah, tantangan pengolahan, dan kebutuhan operasional yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan konfigurasi sistem.

Bagi industri pengolahan susu, evaluasi ini dapat menjadi langkah awal untuk menilai kinerja sistem pengolahan yang sudah berjalan atau merencanakan peningkatan kapasitas dan proses seiring perubahan kebutuhan produksi.

Ingin meningkatkan kinerja pengolahan air limbah industri susu Anda? Hubungi Lautan Air Indonesia untuk mendiskusikan karakteristik air limbah, target pengolahan, dan kebutuhan operasional Anda.

Referensi
  1. Slavov, A. K. (2016). Dairy Wastewaters – General Characteristics and Treatment Possibilities – A review. Food Technology and Biotechnology, 55(1), 14–28. 
  2. Carvalho, F., Prazeres, A. R., & Rivas, J. (2013). Cheese whey wastewater: Characterization and treatment. The Science of the Total Environment, 445–446, 385–396. 
  3. B, R. K., Bhuvaneshwari, S., Majeed, F., M, M. M., Jose, E., & Mohan, A. (2022). Different treatment methodologies and reactors employed for dairy effluent treatment – A review. Journal of Water Process Engineering, 46, 102622. 
  4. Ye, M., & Li, Y. (2023). Methanogenic treatment of dairy wastewater: A review of current obstacles and new technological perspectives. The Science of the Total Environment, 866, 161447. 
  5. Ahmad, T., Aadil, R. M., Ahmed, H., Rahman, U. U., Soares, B. C., Souza, S. L., Pimentel, T. C., Scudino, H., Guimarães, J. T., Esmerino, E. A., Freitas, M. Q., Almada, R. B., Vendramel, S. M., Silva, M. C., & Cruz, A. G. (2019). Treatment and utilization of dairy industrial waste: A review. Trends in Food Science & Technology, 88, 361–372.

Bagikan postingan ini: